Satu warga, satu catatan — dari Posyandu, ke bidan, sampai ruang dokter. Tersimpan di perangkat saat tidak ada jaringan, lalu tersinkron sendiri begitu sinyal kembali.
One person, one record — from the Posyandu to the midwife to the doctor. Held on the device when there is no network, synced the moment a signal returns.
Ibu Maria didaftarkan kader di Posyandu, diperiksa bidan saat hamil, dan dirujuk ke dokter ketika perlu. Ketiganya menulis ke catatan yang sama — bukan tiga berkas berbeda dengan nama yang mirip.
Mendaftarkan, menimbang, menyaring.
ANC 10T, persalinan, nifas, neonatal.
Telaah klinis, resep, rujukan lanjutan.
Struktur Buku KIA, yang sudah ada di kepala setiap bidan. Klik satu tahap untuk melihat apa yang dicatat di sana.
Kontak pertama. Di sinilah skrining laboratorium wajib dilakukan — dan di sinilah paling sering terlewat.
Aplikasi berjalan penuh tanpa jaringan. Antrean tersimpan di perangkat dan terkirim sendiri saat sinyal kembali.
Fully offline. The queue syncs itself.
ANC 10T, K1–K6, KF, dan kunjungan neonatal KN1–KN3 — istilah dan urutan yang sama dengan buku merah muda.
The same terms and order as the pink book.
Rekap PWS-KIA dalam format yang sudah diterima Dinas — tanpa mengetik ulang.
PWS-KIA in the shape the Dinas already accepts.
Penimbangan, tumbuh kembang, dan skrining — lewat aplikasi atau WhatsApp.
Buka aplikasi Kader →ANC 10T, persalinan, nifas, dan kunjungan neonatal KN1–KN3.
Buka aplikasi Bidan →Rekam medis, resep, dan rujukan lanjutan — di SahAIbat DOK.
Buka sahaibatdok.com →Puskesmas, yayasan, atau penyandang dana — cakupan dan laporan wilayah.
Masuk ke konsol Mitra →Tim SahAIbat — masuk sebagai staf untuk pendaftaran mitra dan dukungan teknis.





SahAIbat bukan alat diagnosis dan tidak menggantikan tenaga kesehatan atau layanan gawat darurat. Keputusan klinis tetap pada bidan dan dokter.